Fanfic The Hunger Games: 75th Days Destroy Arenas Episode 1 Copyright: Suzanne Collins
Namaku
Katniss Everdeen. Umurku delapan belas tahun. Aku menjatuhkan kekuasaan Snow.
Dia sudah mati. Coin dan Prim juga. Dan sekarang aku tidak perlu memikirkan perasaan
Gale.
“Hari ini hari besaaaaarrr!” Effie masuk ke
dalam kamarku. Dia mengenakan pakaian ungu metalik dengan rambut palsunya yang
dibuat ikal dan disepuh bunga-bunga primrose.
Hari ini adalah hari pertama penghancuran
arena Hunger Games pertama. Ada 75
arena yang harus dihancurkan. Dan Plutarch membuatnya menjadi semacam acara reality show berjudul ‘75th Days Destroy Arenas.’
Tujuh pemenang yang tersisa akan menjadi saksi penghancuran arena. Tapi
kebanyakan arena akan dihancurkan olehku. Beberapa arena yang lain akan
dihancurkan oleh para pemenang arena itu. Haymitch menghancurkan arena Hunger Games ke-50. Johanna, Annie,
Beete, Peeta, Enobaria, mereka akan menghancurkan arena mereka masing-masing.
Untuk arena yang pemenangnya sudah mati, akan dihancurkan olehku.
Octavia, Venia, dan Flavius mulai memolesku
menjadi Cantik Dasar Nol. Kemudian mereka memakaikan pakaian Mockingjay ke
tubuhku. Aku memandang diriku di cermin. Masih tampak seperti gadis enam belas
tahun yang menggantikan adiknya dalam pemungutan.
Peeta datang dan Tim Persiapanku meninggalkan
kami berdua. Aku bisa menangkap tatapan mata birunya dari pantulan cermin.
“Bagaimana perasaanmu, Katniss?” tanya Peeta.
“Tidak terlalu baik,” jawabku gusar. “Apa
semua pengaturannya suda siap?”
“Sudah. Sekarang kau bisa berangkat,” jawab
Peeta. Kedua tangannya ditempatkan di pundakku. “Kau pasti bisa.”
Aku mengangguk sebagai jawaban. Dan saat
berbalik, Peeta menyentuhkan bibirnya ke bibirku. Ciumannya tidak sehangat
dulu. Tapi ciuman tetaplah ciuman. Tidak penting kapan waktu ciuman itu
terjadi.
Haymitch dan yang lainnya sudah menunggu di
padang rumput. Ada sekitar sepuluh pesawat ringan yang diparkirkan di sana.
Effie disibukkan dengan memberi perintah-perintah khusus pada orang-orang.
“Kau siap muncul di TV lagi, sweetheart?” Haymitch menepuk pipiku.
Aku tersenyum dan berkata, “Kurasa penonton
sudah menunggu cukup lama.”
Kemudian Effie mendorongku masuk ke dalam
salah satu pesawat ringan. Seseorang memasangkan sabuk pengaman di sekitar
pinggangku dan pesawat pun mulai terbang. Di sampingku, Cressida sedang
mengobrol akrab dengan Clapton, sutradara acara ini.
“Kau tidak takut ketinggian, kan, Katniss?”
Clapton melihat ku melewati Cressida.
“Kuharap tidak,” jawabku. Itulah rencananya.
Aku akan menembakkan anak panah peledak Beetee dari angkasa ke arah arena.
Mereka akan menggantungku dengan rantai yang diikat kuat ke pesawat.
“Oh, sudah sampai,” kata Plutarch yang duduk
di depanku beberapa saat kemudian.
Aku melihat keluar jendela. Arena Hunger Games pertama adalah pegunungan
batu yang tandus. Sejauh mata memandang tidak ada pepohonan yang tumbuh. Hanya
ada rerumputan kering yang dipaksa tumbuh di sela-sela batu.
“Siap, Katniss?” tanya Cressida padaku.
Aku mengangguk mengiyakan. Itu artinya aku
segera di bawa ke pintu pesawat ringan. Haymitch membantu petugas yang
mengikatkan rantai di sekeliling pinggangku. Kemudian dia memberiku busur dan
sebatang anak panah. “Tembak yang lurus, sweetheart.”
Aku mengangguk dan memberi tanda untuk segera
menurunkanku. Petugas itu menurunkanku perlahan. Hingga akhirnya aku
menggantung sepuluh meter di bawah pesawat. Aku melihat ke bawah. Di
tengah-tengah arena, ada target merah kecil yang berupa tong-tong peledak.
Kubidik target merah itu. Sedetik kemudian anak panahku melesat. Menusuk target
kecil itu dan seketika api mulai menggulung seperti ombak ke sekeliling arena.
Aku seperti sangat kecil saat melihat betapa dasyatnya api melahap arena tandus
itu. Dalam kengerian, kurasakan aku kembali ditarik ke atas.
Bersambung…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar