Jumat, 10 Mei 2013

Ficfan Hunger Games


Fanfic The Hunger Games: 75th Days Destroy Arenas Episode 1  Copyright: Suzanne Collins

  Namaku Katniss Everdeen. Umurku delapan belas tahun. Aku menjatuhkan kekuasaan Snow. Dia sudah mati. Coin dan Prim juga. Dan sekarang aku tidak perlu memikirkan perasaan Gale.
  “Hari ini hari besaaaaarrr!” Effie masuk ke dalam kamarku. Dia mengenakan pakaian ungu metalik dengan rambut palsunya yang dibuat ikal dan disepuh bunga-bunga primrose.
  Hari ini adalah hari pertama penghancuran arena Hunger Games pertama. Ada 75 arena yang harus dihancurkan. Dan Plutarch membuatnya menjadi semacam acara reality show berjudul ‘75th Days Destroy Arenas.’ Tujuh pemenang yang tersisa akan menjadi saksi penghancuran arena. Tapi kebanyakan arena akan dihancurkan olehku. Beberapa arena yang lain akan dihancurkan oleh para pemenang arena itu. Haymitch menghancurkan arena Hunger Games ke-50. Johanna, Annie, Beete, Peeta, Enobaria, mereka akan menghancurkan arena mereka masing-masing. Untuk arena yang pemenangnya sudah mati, akan dihancurkan olehku.
  Octavia, Venia, dan Flavius mulai memolesku menjadi Cantik Dasar Nol. Kemudian mereka memakaikan pakaian Mockingjay ke tubuhku. Aku memandang diriku di cermin. Masih tampak seperti gadis enam belas tahun yang menggantikan adiknya dalam pemungutan.
  Peeta datang dan Tim Persiapanku meninggalkan kami berdua. Aku bisa menangkap tatapan mata birunya dari pantulan cermin.
  “Bagaimana perasaanmu, Katniss?” tanya Peeta.
  “Tidak terlalu baik,” jawabku gusar. “Apa semua pengaturannya suda siap?”
  “Sudah. Sekarang kau bisa berangkat,” jawab Peeta. Kedua tangannya ditempatkan di pundakku. “Kau pasti bisa.”
  Aku mengangguk sebagai jawaban. Dan saat berbalik, Peeta menyentuhkan bibirnya ke bibirku. Ciumannya tidak sehangat dulu. Tapi ciuman tetaplah ciuman. Tidak penting kapan waktu ciuman itu terjadi.
  Haymitch dan yang lainnya sudah menunggu di padang rumput. Ada sekitar sepuluh pesawat ringan yang diparkirkan di sana. Effie disibukkan dengan memberi perintah-perintah khusus pada orang-orang.
  “Kau siap muncul di TV lagi, sweetheart?” Haymitch menepuk pipiku.
  Aku tersenyum dan berkata, “Kurasa penonton sudah menunggu cukup lama.”
  Kemudian Effie mendorongku masuk ke dalam salah satu pesawat ringan. Seseorang memasangkan sabuk pengaman di sekitar pinggangku dan pesawat pun mulai terbang. Di sampingku, Cressida sedang mengobrol akrab dengan Clapton, sutradara acara ini.
  “Kau tidak takut ketinggian, kan, Katniss?” Clapton melihat ku melewati Cressida.
  “Kuharap tidak,” jawabku. Itulah rencananya. Aku akan menembakkan anak panah peledak Beetee dari angkasa ke arah arena. Mereka akan menggantungku dengan rantai yang diikat kuat ke pesawat.
  “Oh, sudah sampai,” kata Plutarch yang duduk di depanku beberapa saat kemudian.
  Aku melihat keluar jendela. Arena Hunger Games pertama adalah pegunungan batu yang tandus. Sejauh mata memandang tidak ada pepohonan yang tumbuh. Hanya ada rerumputan kering yang dipaksa tumbuh di sela-sela batu.
  “Siap, Katniss?” tanya Cressida padaku.
  Aku mengangguk mengiyakan. Itu artinya aku segera di bawa ke pintu pesawat ringan. Haymitch membantu petugas yang mengikatkan rantai di sekeliling pinggangku. Kemudian dia memberiku busur dan sebatang anak panah. “Tembak yang lurus, sweetheart.
  Aku mengangguk dan memberi tanda untuk segera menurunkanku. Petugas itu menurunkanku perlahan. Hingga akhirnya aku menggantung sepuluh meter di bawah pesawat. Aku melihat ke bawah. Di tengah-tengah arena, ada target merah kecil yang berupa tong-tong peledak. Kubidik target merah itu. Sedetik kemudian anak panahku melesat. Menusuk target kecil itu dan seketika api mulai menggulung seperti ombak ke sekeliling arena. Aku seperti sangat kecil saat melihat betapa dasyatnya api melahap arena tandus itu. Dalam kengerian, kurasakan aku kembali ditarik ke atas.
Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar